HUMRISChannel — Tiga puluh tiga tahun telah berlalu sejak gempa dan tsunami besar mengguncang Pulau Flores pada 12 Desember 1992. Peristiwa memilukan itu meluluhlantakkan wilayah pesisir di Kabupaten Sikka, Flores Timur, Ende, dan Ngada. Namun ingatan masyarakat akan tragedi tersebut masih membekas kuat hingga kini.
Pada pukul 13.29 WITA, guncangan kuat tiba–tiba menggoyang daratan Flores. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) saat itu mencatat magnitudo 6,8 Skala Richter. Namun lembaga geofisika Institut de Physique du Globe, Strasbourg, Prancis, merekam kekuatan gempa yang lebih besar, yakni 7,5 magnitudo. Guncangan kuat ini berlangsung singkat, namun cukup untuk memicu tsunami dahsyat yang menerjang pesisir utara Flores, terutama wilayah Maumere.
Gelombang Tinggi yang Menghancurkan
Tsunami dipicu oleh gangguan dasar laut akibat pergeseran lempeng bumi. Dalam hitungan menit setelah gempa, gelombang besar bergerak cepat dengan kecepatan ratusan kilometer per jam menuju daratan. Maumere menjadi wilayah terdampak terparah dengan sekitar 1.000 bangunan hancur dan rusak berat. Banyak warga tidak sempat menyelamatkan diri karena tsunami datang begitu cepat.
Kawasan “Sarang Gempa” Indonesia Timur
Secara geologi, kawasan Indonesia Timur memang berada pada zona tumbukan aktif antara Lempeng Indo–Australia dan Eurasia. Para ahli geologi menyebut wilayah ini sebagai salah satu “sarang gempa bumi” di Nusantara. Kondisi inilah yang membuat Nusa Tenggara memiliki potensi gempa dan tsunami lebih tinggi dibanding wilayah lain.
Heriyadi Rachmad, perekayasa utama Museum Geologi Bandung, yang tiba di Flores dua hari setelah kejadian, mencatat bahwa gempa tersebut tidak hanya memicu tsunami, tetapi juga memicu serangkaian longsor di wilayah perbukitan. Longsor paling parah terjadi di bagian tengah dan selatan Kota Maumere.
Catatan Bencana: Indonesia Timur Paling Rawan Tsunami
Data DIBI (Data dan Informasi Bencana Indonesia) menunjukkan bahwa sejak tahun 1629 hingga 2014, Indonesia mengalami 174 tsunami. Dari jumlah itu, 60 persen di antaranya terjadi di wilayah Indonesia Timur — termasuk Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara. Angka ini mempertegas betapa rawannya kawasan tersebut terhadap bencana gempa dan tsunami.
Pelajaran Berharga tentang Mitigasi
Tragedi Flores 1992 meninggalkan luka mendalam bagi para penyintas. Banyak keluarga kehilangan orang terkasih, rumah, dan mata pencaharian. Namun peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Mitigasi yang komprehensif — mulai dari edukasi masyarakat, tata ruang berbasis risiko, hingga pemanfaatan teknologi deteksi dini — menjadi kebutuhan mendesak bagi wilayah rawan bencana. Di atas semua itu, masyarakat juga diajak untuk senantiasa waspada dan memperkuat spiritualitas sebagai bagian dari upaya menghadapi ketidakpastian alam.***
[TH-25 | ™ HUMRISChannel]
Comments
Post a Comment