MAULID NABI, humrischannel-
Muhammad Bin Abdullah lahir pada Senin 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (am Al-fil), atau bertepatan dengan 570 Masehi di kota Makkah Al Mukaromah atau Mekah. Tentu banyak orang bertanya mengapa tahun kelahiran beliau Sayidina Muhammad Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam disebut tahun gajah?, Karena saat lahir beliau bertepatan dengan kedatangan tentara bergajah dibawah pimpinan Raja Abrahah untuk menyerang dan menghancurkan Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Nabi Muhammad merupakan putera Abdullah dan Siti Aminah, beliau merupakan cucu dari pembesar suku Quraisy Abdul Muthalib, kelahirannya disambut suka cita kaum Quraisy. Tanda-tanda kelahiran Nabi Muhammad Menurut hadits riwayat Imam Ibnu Ishaq dari Sayyidina Ibnu Abbas, Rasulullah dilahirkan pada malam yang tenang dan perasaan Aminah ibundanyapun sangat tenang dan nyaman. Tanda-tanda kelahiran Nabi Muhammad dapat dipelajari dalam kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Alam karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami Asy-Syafii.
Hari kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam diperingati oleh sebagian besar kalangan Umat Islam baik diperkotaan maupun di pelosok desa, kegiatan ini dikenal dengan Maulid Nabi. Perayaan Maulid Nabi juga dilakukan oleh Umat Islam di belahan dunia lainnya dengan cara sesuai dengan tradisi dan kelaziman masing-masing sebagai bentuk penghormatan dan menghayati risalah yang disampaikannya.
Di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan beberapa negara Asia, Timur Tengah, Afrika dan Eropa serta Benua Amerika juga Australia umat Islam bergembira menyambut hari kelahiran Nabi akhir zaman dan penyempurna risalah para Ambiya.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad dilaksanakan di masjid-masjid, musholla, surau dan langgar, dalam masa pandemi Covid-19 ini masyarakat muslim merayakannya dengan protokol kesehatan sesuai standar dan tidak mengurangi khidmatnya acara tersebut.
Berkumpulnya umat Islam tua muda, besar kecil tidak memandang status sosial menggambarkan bentuk persatuan umat Islam yang berdampak pada persatuan dan kesatuan serta keutuhan bangsa Indonesia. Umat beragama lainpun ikut memberikan ucapan selamat sesuai kepatutan dan cara masing-masing, ini menunjukan besarnya rasa saling menghargai kebebasan beragama dan turut larut dalam perayaan sebagai bentuk toleransi tanpa mencampuradukkan keyakinan yang berbeda.
Masyarakat Muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa, bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten. Dan tradisi endhog-endhogan yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa-Using di Banyuwangi, Jawa Timur.
Saling memberi ucapan Selamat dalam momentum perayaan Maulid Nabi menunjukan semangat kebangsaan yang benar-benar mencerminkan kerukunan hidup beragama sebagaimana semangat yang terkandung dalam butir-butir Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
Umat Islam Indonesia dan dunia memperingati Maulid Nabi untuk mengenang perjuangan Rasulullah SAW dalam membawa ajaran Rabb semesta alam, Allah Subhanahu Wata'ala. Dalam pidato memperingati Maulid Nabi di Istana Negara, Soekarno mengingatkan perihal keberadaan pemimpin besar di setiap masanya.
"Tidak ada satu bangsa yang besar, yang tidak mempunyai orang besar. Seluruh sejarah manusia. Coba saudara, petani, sejarah manusia itu. Kurun ribuan tahun sebelum kita, sampai sekarang. Di perjalanan umat sejarah manusia, kita menjumpai orang-orang besar," ujar Soekarno.
Bagi Soekarno memperingati Maulid Nabi bukan hanya merayakan hari lahir Rasullah SAW semata. Melainkan ajaran yang dibawanya, perjuangan yang dilaluinya di masa lalu. "Kita sekarang ini merayakan Maulud, Maulud Nabi. Apa sebenarnya yang kita rayakan? Bukan sekadar Muhammad-nya. Bukan sekadar dia itu dulu Nabi, tidak. Yang kita rayakan sebenarnya ialah ajaran, konsepsi, agama yang ia berikan kepada umat," ucap Soekarno begitu menggebu-gebu.
Dalam Peringatan Maulid Nabi di Istana Negara 1 Juli 1966 Bung Karno mengatakan "Umat Muhammad bukan umat yang hanya menghendaki gorengan ayam terbang ke mulutnya, tidak. Umat Muhammad ialah umat yang bertempur berjuang membanting tulang, mengulur tenaga, memeras ia punya keringat. Itulah umat Muhammad. Itu sebabnya, aku begitu cinta keadaan Muhammad dan mengikuti sunah Muhammad itu tadi".

Masyaa Allah
ReplyDeleteShollu ala Nabi
ReplyDelete